Koin Emas Sriwijaya, yang sering disebut massa atau suwarna, merupakan salah satu bukti awal sistem perdagangan dan ekonomi terorganisir di Nusantara. Koin ini berasal dari masa Kerajaan Sriwijaya sekitar abad ke-7 hingga ke-13 Masehi, ketika Sriwijaya menjadi kerajaan maritim besar yang menguasai jalur perdagangan di Asia Tenggara.
Koin ini umumnya terbuat dari emas dengan ukuran relatif kecil dan bentuk sederhana, biasanya bulat pipih. Beberapa koin memiliki cap atau simbol tertentu, meskipun tidak selalu memuat tulisan yang jelas seperti mata uang modern. Beratnya pun bervariasi, menyesuaikan nilai tukarnya dalam transaksi perdagangan.
Sebagai kerajaan yang aktif berdagang dengan India, Tiongkok, dan wilayah Asia lainnya, Sriwijaya membutuhkan alat tukar yang praktis dan bernilai tinggi. Karena itulah emas dipilih—selain bernilai tinggi, emas juga tahan lama dan tidak mudah rusak. Koin emas ini digunakan dalam kegiatan perdagangan, pembayaran pajak, serta transaksi antarpedagang di pelabuhan-pelabuhan penting.
Keberadaan koin emas Sriwijaya menunjukkan bahwa pada masa itu masyarakat Nusantara sudah mengenal sistem ekonomi berbasis mata uang, tidak hanya barter. Penemuan koin ini juga menjadi bukti kemajuan peradaban Sriwijaya dalam bidang ekonomi, perdagangan, dan hubungan internasional.
Saat ini, koin emas Sriwijaya menjadi benda bersejarah yang bernilai tinggi, baik dari sisi arkeologi maupun sejarah, karena mencerminkan kejayaan salah satu kerajaan besar di Indonesia.








